Tips Menulis Buku Biografi Tentang Ayah : Belajar dari Review Buku Abi, My First Love

Rabu, 23 Desember 2020

Tips Menulis Buku Biografi Tentang Ayah : Belajar dari Review Buku Abi, My First Love


 


Review Buku Abi, My First Love. Pada #TJIBookReview yang diadakan pada tanggal 17 Juli 2020 lalu, lewat WAG TJI Community, Kak Dania sebagai penulis berkesempatan untuk menceritakan secara singkat mengenai perjalanannya dalam menulis buku yang dipersembahkan untuk Almarhum Abi yang sangat dicintainya serta menceritakan bagian yang sangat menyentuh dari isi buku tersebut. Penasaran nggak, jannati? Yuk, kita simak.

Ini adalah buku solo ketiga yang dilahirkan oleh seorang perempuan bernama lengkap Dania Puspitasari. Adapun dua buku solo sebelumnya bertajuk Metamorpho (Antologi Puisi) dan Mutiara Qiblat. Meskipun sempat dilanda kebimbangan dalam proses penulisan naskah, alhamdulillah novel ini selesai dan menjadi sebuah karya yang sangat inspiratif.

Yang menarik adalah tentang bagaimana seorang ibu dari tiga anak ini mendapatkan ide untuk menulis buku Abi, My First Love. Cukup mengharukan rupanya. Kala itu, Agustus 2019, sang Ayah yang biasa dipanggil Abi oleh Kak Dania, dipanggil oleh Allah SWT. Sebagai seorang anak pastinya muncul rasa kehilangan yang begitu besar. Hingga pada hari ke-21 pasca ditinggal pergi Abi untuk selama-lamanya, rasa kehilangan dan kerinduan itu semakin besar dan rasanya perlu untuk dituangkan dalam sebuah tulisan agar sedikit meringankan beban di hati.

Saat sebagian orang termotivasi untuk menulis setelah membaca karya-karya beberapa penulis hebat, Kak Dania justru termotivasi untuk menulis setelah ia menemukan dan membaca diary sang Ayah sendiri. MasyaAllah.

Proses kreatif dari menulis buku ini dimulai Kak Dania dari membuat sebuah outline yang kemudian dikembangkan menjadi ide penulisan agar menjadi sebuah cerita yang kompleks. Selain itu, beliau juga membuat sebuah mapping kenangan apa saja yang akan ia masukkan ke dalam naskah. Tidak terbayang ya ketika mengingat kenangan tersebut, kerinduan akan kehadiran sang Abi di sisi pasti semakin bertambah.

Sementara untuk judul, dipikirkan belakangan karena menurutnya, ia adalah tipe yang selesai menulis dulu baru judul dipercantik. 

Ia juga menuliskan beberapa strong why untuk menulis naskah tentang Abi yang sangat ia banggakan, yaitu :

·         Agar ilmu Abi mengalir sebagai amal jariyah,

·         Mengenangnya karena ingatan begitu rapuh,

·         Memperkenalkan Abi kepada anak cucu.

Tiga hal ini yang akhirnya menguatkan tekad Kak Dania untuk terus melanjutkan menulis naskah buku Abi, My First Love. Atas dasar rasa kehilangan tersebut, ada rasa ketakutan tersendiri jika sewaktu-waktu ingatannya tentang sang Abi perlahan-lahan hilang karena sebagai makhluk, kemampuan mengingat kita sangat terbatas. Begitu juga seperti yang kita tahu, saat waktu kita di dunia sudah habis maka saat itu juga terputuslah kesempatan untuk beramal baik. Dengan adanya buku ini, Kak Dania berharap bisa menjadi amal jariyah bagi Abi.

Ini adalah daftar isi dari buku Abi, My First Love.


 

Source: WAG TJI Community


Pada salah satu bab yaitu bab 7, Kak Dania memberikan sub judul yaitu Sang Kakek Kami. Pada bab 7 tersebut Kak Dania mencoba melibatkan anak-anaknya dalam proses penulisan. Kak Dania menanyakan satu persatu kepada anaknya layaknya wartawan yang sedang mewawancarai narasumber.

Proses ini juga bertujuan untuk mengembalikan ingatan anak-anak terhadap sang kakek yang baru saja wafat. "Dan anak-anak sangat menikmati proses tersebut serta bangga kita melihat nama mereka tercantum dalam buku yang saya tulis tersebut," ungkap Kak Dania kala itu.


Source: WAG TJI Community

“Abi saya memang suka sekali cerita, suka membaca dan menyediakan kami buku. Itu yang saya ingin wariskan ke anak cucu kami.” lanjut Kak Dania bercerita betapa bangganya ia memiliki sosok ayah seperti sang Abi.

Menutup sesi review buku hari itu, Kak Dania juga mengatakan bahwa jika setelah membaca buku ini ada yang berpendapat, “Ah, gini aja saya juga bisa.” Maka buku ini sudah berhasil memotivasi kamu bahwa kamu pun bisa menulis sebuah buku, dua buku, bahkan lebih.

Itu bukti bahwa menulis tidak membutuhkan bakat tetapi kemauan dan tekad.

Buku ini menjadi lebih menarik karena berasal dari keresahan hati sang penulis karena apa yang dari hati insyaallah akan sampai ke hati juga. Karena berkisah tentang sang Abi yang sudah pergi lebih dahulu maka sudah pasti buku ini mengandung efek baper yang akan membuat jannati sekalian meneteskan air mata setelah membacanya sembari mengingat sosok ayah masing-masing, begitu sangat menyentuh.



Kontributor: Ayadeflorian

 

4 komentar :

  1. Kak Dania atau Kak Dania Puspita (kalau ndak salah). Sebenarnya saya sudah mengenalnya sejak lama, sekitar tahun 2017. Waktu itu saya kenalnya lewat penerbit indie. Alhamdulillah sekarang beliau sudah 'melahirkan' karya ya... semoga istiqomah bekarya. untuk Almarhum Abi, tentunya sangat bangga melihat anaknya berkarya, itu artinya mencetak amal jariyah....

    BalasHapus
  2. masyaaAllah karya sederhana tapi berkesan, bagi penulis maupun yg ditulis, semoga menjadi amal jariyah, aamiin

    BalasHapus
  3. Mereka yang mengatakan begitu saja bisa karena bisa membaca, tidak tahu betapa penuh perjuangan untuk menuangkan satu kata yang pas, diksi yang tepat, dan rangkaian kata menjadi frase, frase, menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi teks, teks menjadi buku. Cobalah menghitung ada berapa kata dalam buku itu? kalau tak menari-nari dalam dunia fantasi,dan imaginasi tak kan bisa mendapatkan inspirasi. Salut buat "abi" Allahummagfirlahu warhamhu wa afihi wa'fuanhu. Al Fatihah

    BalasHapus
  4. MasyaAllah..sangat menginspirasi terima kasih..

    BalasHapus